Dari Patah Hati ke Patah Tulang: Perjalanan Pasien dalam Menghadapi Operasi Ortopedi Mayor.

Setiap cedera berat tidak hanya meninggalkan bekas fisik, tetapi juga luka emosional. Pepatah “patah hati” seakan menjadi metafora yang tak asing. Namun, ketika trauma fisik sungguhan seperti patah tulang kompleks terjadi, perjalanan pasien dalam menghadapi operasi ortopedi mayor menjadi lebih berat. Perjalanan pasien ini adalah tentang perjuangan, ketahanan, dan harapan untuk bisa kembali bangkit. Dari rasa sakit yang tak terbayangkan hingga masa pemulihan yang menantang, setiap perjalanan pasien adalah kisah yang menginspirasi.

Pada 28 Mei 2025, pukul 16.00 WIB, seorang pemuda bernama Rio (25) mengalami kecelakaan kerja di sebuah pabrik. Sebuah beban berat menimpa kakinya, mengakibatkan patah tulang kering (tibia) dan tulang betis (fibula) yang parah, tergolong sebagai fraktur terbuka. Rio segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Sehat Sentosa. Tim medis darurat dengan sigap membersihkan luka dan menstabilkan kondisi Rio untuk mencegah infeksi dan pendarahan hebat. Kepala Unit Gawat Darurat, dr. Winda, Sp.EM, menyatakan bahwa kasus Rio membutuhkan tindakan bedah segera. “Fraktur terbuka memiliki risiko infeksi yang sangat tinggi, jadi operasi harus dilakukan secepat mungkin,” jelas dr. Winda.

Di ruang operasi, tim dokter ortopedi, yang dipimpin oleh dr. Bayu, Sp.OT, melakukan prosedur Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Operasi berlangsung selama empat jam. Tim bedah membersihkan luka, mengembalikan posisi tulang ke posisi semula, dan memasang plat serta sekrup khusus untuk menstabilkan tulang dari dalam. Setelah operasi, Rio dirawat di Ruang Perawatan Ortopedi selama satu minggu. Selama masa ini, ia menerima suntikan antibiotik dan obat pereda nyeri secara teratur. Namun, perjuangan Rio tidak berhenti di situ. Selain rasa sakit fisik, ia juga menghadapi gejolak emosional. Ia merasa cemas akan masa depannya, khawatir tidak bisa kembali bekerja, dan merasa putus asa.

Namun, dukungan dari keluarga, sahabat, dan konselor rumah sakit memberinya kekuatan. Rio menyadari bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan sendirian. Selama tiga bulan berikutnya, Rio menjalani sesi fisioterapi intensif di bawah bimbingan fisioterapisnya, Bapak Toni. Latihan-latihan sederhana di awal, seperti menggerakkan jari-jari kaki dan mengangkat paha, terasa sangat berat. Namun, Rio menjalaninya dengan penuh disiplin. Berkat kegigihannya, ia berhasil mendapatkan kembali sebagian besar fungsi kakinya. Ia bahkan berhasil mengikuti program pelatihan keterampilan baru yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota, yang membuatnya optimis untuk kembali produktif. Kisah Rio menunjukkan bahwa di balik setiap luka fisik yang parah, ada perjalanan pasien yang dipenuhi dengan perjuangan mental, dan dengan tekad yang kuat, harapan untuk bangkit kembali akan selalu ada.