Simulasi evakuasi gempa dilakukan seluruh staf medis dan pasien RS

Sebagai gedung pelayanan publik yang beroperasi 24 jam, rumah sakit memiliki risiko yang sangat tinggi apabila terjadi bencana alam mendadak seperti gempa bumi. Oleh karena itu, prosedur Simulasi evakuasi gempa menjadi agenda wajib yang harus dikuasai oleh seluruh staf medis di RS Fauziah Bireuen guna menjamin keselamatan pasien dan pengunjung. Latihan ini dirancang untuk menguji kesiapsiagaan personel dalam merespons getaran gempa, mulai dari instruksi berlindung di bawah meja hingga proses pemindahan pasien yang sedang dalam perawatan intensif ke titik kumpul yang aman di luar gedung. Ketepatan waktu dan ketenangan dalam mengambil keputusan saat situasi darurat adalah kunci utama untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

Dalam skenario Simulasi evakuasi gempa ini, koordinasi antar unit menjadi fokus utama penilaian oleh tim keselamatan kerja rumah sakit. Para perawat dilatih untuk memprioritaskan evakuasi pasien yang tidak dapat bergerak mandiri menggunakan tandu maupun kursi roda melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan. Staf keamanan juga berperan penting dalam memastikan semua pintu keluar tidak terhambat dan mengarahkan massa agar tidak terjadi kepanikan yang bisa menyebabkan cidera tambahan. Pemahaman mengenai rambu-rambu evakuasi dan fungsi assembly point dipertegas kembali agar setiap orang yang berada di dalam lingkungan rumah sakit tahu persis ke mana mereka harus melangkah saat sirine tanda bahaya berbunyi dengan kencang.

Pelaksanaan Simulasi evakuasi gempa juga melibatkan penggunaan peralatan darurat seperti alat pemadam api ringan (APAR) untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang sering menyertai bencana gempa akibat arus pendek listrik. Seluruh staf medis dibekali kemampuan dasar untuk mematikan aliran oksigen sentral dan gas medis lainnya guna mencegah ledakan di area perawatan. Simulasi ini dilakukan dengan sangat realistis, termasuk melibatkan beberapa pasien relawan untuk memberikan gambaran nyata mengenai kendala yang mungkin dihadapi di lapangan, seperti lorong yang sempit atau kepanikan massal. Evaluasi mendalam dilakukan setelah latihan berakhir untuk menutup celah kekurangan dalam prosedur penyelamatan yang ada. Dengan adanya latihan berkala, setiap staf medis akan memiliki “memori otot” sehingga mereka tidak akan bingung saat bencana yang sebenarnya terjadi secara tiba-tiba.