Saat menaiki lift di banyak rumah sakit besar di Indonesia, Anda mungkin menyadari sesuatu yang tidak biasa: tombol angka 4 dan 13 sering kali tidak ada dan digantikan dengan angka 3A atau langsung melompat ke angka selanjutnya. Fenomena hilangnya lantai 4 dan 13 ini bukan disebabkan oleh kesalahan teknis dalam pembangunan gedung, melainkan sebuah praktik yang umum dilakukan berdasarkan kepercayaan masyarakat. Meskipun rumah sakit adalah institusi yang menjunjung tinggi sains, pihak manajemen tetap mempertimbangkan aspek psikologis dan kenyamanan batin para pasien yang datang dari berbagai latar belakang budaya.
Angka 4 dalam tradisi masyarakat tertentu dianggap kurang baik karena pelafalannya sering dikaitkan dengan makna negatif dalam bahasa Mandarin. Sementara itu, angka 13 dalam budaya Barat sering dianggap sebagai angka pembawa nasib buruk. Praktik hilangnya lantai 4 dan 13 dilakukan untuk menghindari rasa cemas atau ketakutan berlebihan pada pasien. Bayangkan jika seorang pasien yang sedang dalam kondisi kritis harus dirawat di lantai yang ia yakini membawa sial; kecemasan psikologis tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi motivasi kesembuhan mereka. Dengan mengubah penomoran, rumah sakit menciptakan suasana yang lebih tenang dan optimis.
Secara teknis, lantai tersebut tetap ada secara fisik di dalam struktur gedung. Jika Anda menghitung dari luar, lantai tersebut tetap berdiri tegak, hanya saja label atau penomorannya yang disesuaikan. Penomoran ini juga sudah dikoordinasikan dengan sistem keamanan dan tim darurat agar tidak membingungkan saat terjadi situasi krisis. Fenomena hilangnya lantai 4 dan 13 ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sosiokultural dalam dunia medis modern di Indonesia, di mana kenyamanan mental pasien dianggap sama pentingnya dengan pengobatan klinis yang diberikan oleh tim dokter ahli.
Menariknya, kebijakan ini tidak hanya ditemukan di rumah sakit, tetapi juga di hotel dan gedung perkantoran mewah. Namun di rumah sakit, di mana harapan dan doa menjadi bagian dari proses penyembuhan, kebijakan ini diambil lebih serius. Meskipun tenaga medis secara profesional hanya berpegang pada fakta sains, mereka sangat menghargai ketenangan pikiran pasien. Jadi, jika nanti Anda menemukan kejadian hilangnya lantai 4 dan 13 di lift sebuah rumah sakit, Anda mengerti bahwa itu adalah salah satu bentuk empati pihak rumah sakit terhadap psikologi manusia demi mendukung proses penyembuhan yang lebih positif.
