Bagi seorang Muslim, proses kembali kepada Sang Pencipta adalah perjalanan spiritual yang paling agung. Oleh karena itu, tersedianya layanan talqin di rumah sakit menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan tuntunan yang benar di saat kesadarannya mulai menurun. Petugas rohani di RSUD Fauziah Bireuen telah dilatih secara khusus untuk bersikap empati, tenang, dan mampu berkomunikasi dengan halus dalam situasi yang penuh kesedihan. Mereka hadir bukan hanya untuk menjalankan ritual, tetapi untuk menjadi pilar penyangga moral bagi keluarga yang sedang berduka.
Proses pendampingan ini dilakukan dengan cara membisikkan kalimat-kalimat thayyibah, khususnya kalimat tauhid, ke telinga pasien secara perlahan dan terus-menerus. Tujuannya adalah agar kalimat terakhir yang terekam dalam ingatan dan diucapkan oleh pasien adalah pengakuan akan keesaan Tuhan. Di lingkungan RSUD Fauziah Bireuen, petugas selalu menekankan agar suasana di sekitar pasien tetap tenang. Tidak boleh ada suara tangisan yang berlebihan atau kepanikan yang dapat mengganggu konsentrasi pasien dalam menghadapi sakaratul maut. Petugas akan dampingi pasien dengan penuh kesabaran, memastikan setiap detik yang berlalu diisi dengan doa dan zikir.
Keberadaan layanan ini di Bireuen sangat membantu pihak keluarga yang sering kali merasa bingung atau terlalu sedih untuk menuntun anggota keluarganya sendiri. Dengan hadirnya petugas rohani, keluarga merasa lebih tenang karena mengetahui bahwa orang yang mereka cintai berada dalam penanganan yang tepat secara syariat. Layanan ini diberikan secara khidmat dan tanpa biaya tambahan, sebagai bagian dari komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang paripurna. Rumah sakit berubah fungsi tidak hanya sebagai tempat pengobatan, tetapi juga sebagai tempat transisi yang penuh kehormatan dan kemuliaan.
Selain bimbingan langsung kepada pasien, petugas talqin di RSUD Fauziah Bireuen juga memberikan edukasi kepada keluarga mengenai tata cara menghadapi kondisi kritis menurut tuntunan agama. Mereka diajarkan untuk membacakan surat-surat tertentu dalam Al-Qur’an dan cara bersikap yang benar agar pasien merasa nyaman dan tidak merasa sendirian. Pendekatan ini secara signifikan mampu menurunkan tingkat trauma psikologis pada keluarga yang ditinggalkan. Mereka akan merasa lebih ikhlas karena telah mengupayakan akhir yang terbaik (husnul khatimah) bagi anggota keluarganya melalui bantuan profesional dari rumah sakit.
