Sebuah insiden mengerikan terjadi di ruang bedah sebuah rumah sakit daerah, di mana seorang oknum Dokter Mabuk nekat melakukan prosedur operasi dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol. Tragedi ini mengakibatkan terjadinya kegagalan medis yang fatal, di mana pasien yang seharusnya menjalani prosedur rutin justru mengalami pendarahan hebat yang tidak terkendali hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di atas meja operasi. Kasus ini memicu kemarahan publik dan mempertanyakan efektivitas pengawasan internal rumah sakit terhadap kondisi fisik dan mental tenaga medis sebelum menangani nyawa manusia.
Kejadian yang melibatkan Dokter Mabuk ini terungkap setelah staf perawat mencium aroma alkohol yang kuat saat proses pembedahan berlangsung. Namun, karena adanya budaya senioritas yang kaku di lingkungan medis, banyak staf yang merasa segan atau takut untuk menegur sang dokter saat itu juga. Kelalaian ini berujung pada kesalahan fatal dalam penyayatan organ vital yang seharusnya tidak terjadi jika sang dokter berada dalam kesadaran penuh. Kegagalan operasi ini bukan hanya sebuah kecelakaan medis, melainkan tindak pidana pengabaian keselamatan pasien yang sangat berat.
Dampak dari tragedi Dokter Mabuk ini mencoreng muruah profesi kedokteran secara keseluruhan. Keluarga korban yang merasa hancur kini menuntut keadilan melalui jalur hukum, mendesak agar izin praktik sang dokter dicabut secara permanen dan pihak manajemen rumah sakit dimintai pertanggungjawaban atas kelalaian pengawasan. Secara psikologis, kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan tersebut merosot tajam, menciptakan ketakutan bagi pasien lain yang hendak menjalani prosedur bedah serupa. Profesionalisme seorang dokter tidak hanya diukur dari gelar, tetapi dari kesucian janji untuk mengutamakan keselamatan pasien di atas segalanya.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) diharapkan bertindak tegas dalam menangani kasus Dokter Mabuk guna menjaga integritas profesi. Protokol pemeriksaan kesehatan mendadak sebelum masuk ruang operasi harus mulai diterapkan secara rutin, termasuk tes napas untuk memastikan tidak ada tenaga medis yang berada di bawah pengaruh zat adiktif atau alkohol. Selain itu, budaya berani melapor di kalangan perawat dan staf medis harus didorong agar kesalahan fatal bisa dicegah sebelum terjadi. Nyawa manusia terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh perilaku tidak bertanggung jawab dari oknum yang menyalahgunakan wewenang medisnya.
