Masalah pencernaan pada usia lanjut sering kali dianggap sebagai hal yang biasa, padahal gangguan seperti sembelit atau Konstipasi Lansia dapat sangat mengganggu kualitas hidup dan kenyamanan harian. Di RSU Fauziah Bireuen, penanganan masalah ini menjadi salah satu fokus dalam layanan geriatri karena tingginya angka keluhan terkait kesulitan buang air besar pada pasien lanjut usia. Penurunan gerak peristaltik usus, kurangnya asupan cairan, hingga efek samping dari konsumsi obat-obatan tertentu menjadi pemicu utama. Namun, penggunaan obat pencahar kimiawi secara terus-menerus bukanlah solusi jangka panjang yang disarankan karena dapat menyebabkan ketergantungan usus dan ketidakseimbangan elektrolit.
Langkah pertama dalam cara penanganan yang diterapkan di rumah sakit ini adalah dengan merevolusi pola asupan serat harian secara bertahap. Serat tidak larut yang ditemukan pada gandum utuh, beras merah, dan sayuran hijau berfungsi untuk menambah massa feses sehingga lebih mudah didorong oleh otot usus. Di sisi lain, serat larut yang terdapat pada buah-buahan seperti pepaya dan alpukat membantu melunakkan konsistensi kotoran. Di RSU Fauziah Bireuen, para ahli gizi menekankan bahwa penambahan serat harus dibarengi dengan peningkatan asupan air putih. Tanpa air yang cukup, serat justru dapat memadat di dalam usus dan memperburuk kondisi sumbatan yang ada.
Metode alami lainnya yang sangat efektif adalah dengan memanfaatkan keajaiban minyak zaitun atau minyak kelapa murni dalam porsi kecil. Lemak sehat ini bertindak sebagai pelumas alami bagi dinding usus, memudahkan sisa makanan bergerak menuju pembuangan. Selain itu, konsumsi makanan fermentasi lokal yang kaya akan probiotik juga sangat dianjurkan. Probiotik membantu menyeimbangkan ekosistem bakteri baik di dalam usus besar, yang secara langsung meningkatkan kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Pendekatan ini jauh lebih aman bagi tubuh lansia yang sudah mulai sensitif terhadap bahan-bahan kimia sintetis yang sering ditemukan dalam obat-obatan modern.
Aktivitas fisik juga memegang peranan vital untuk atasi konstipasi tanpa harus bergantung pada bantuan medis yang invasif. Gerakan tubuh yang aktif akan merangsang saraf di area perut dan mempercepat pergerakan makanan di dalam saluran cerna. Para perawat di rumah sakit ini sering mengedukasi keluarga untuk mengajak lansia berjalan kaki santai di pagi hari selama 15 hingga 20 menit. Jika mobilitas lansia terbatas, latihan pernapasan perut atau pijatan lembut pada area abdomen searah jarum jam dapat membantu melancarkan sumbatan. Hal ini merupakan bagian dari terapi fisik ringan yang sangat mudah dipraktikkan di rumah sebagai rutinitas harian yang menyehatkan.
