Bagi kebanyakan orang, cantengan (ingrown toenail) mungkin hanya dianggap sebagai gangguan kecil yang menyakitkan. Namun, bagi individu yang hidup dengan kondisi kronis, terutama diabetes melitus, cantengan berubah menjadi ancaman kesehatan yang serius. Hubungan antara Cantengan dan Diabetes menciptakan bahaya tersembunyi yang dapat memicu komplikasi fatal, seperti infeksi berat yang berakhir pada amputasi. Tingginya kadar gula darah pada penderita diabetes merusak saraf (neuropati) dan pembuluh darah (penyakit vaskular perifer), menciptakan kondisi ideal bagi infeksi kuku kecil untuk berkembang menjadi ulkus diabetes yang parah dan sulit sembuh. Oleh karena itu, bagi pasien diabetes, pencegahan dan penanganan cantengan harus menjadi prioritas utama dalam manajemen kesehatan kaki harian.
Ancaman utama dari kombinasi Cantengan dan Diabetes terletak pada dua faktor utama yang terjadi akibat hiperglikemia (kadar gula tinggi). Faktor pertama adalah Neuropati Diabetik. Kerusakan saraf ini menyebabkan hilangnya sensasi nyeri, sehingga penderita diabetes mungkin tidak menyadari bahwa kuku mereka telah menusuk kulit dan menyebabkan luka terbuka. Luka kecil akibat cantengan bisa luput dari perhatian selama berhari-hari atau berminggu-minggu, memberikan waktu yang cukup bagi bakteri untuk berkembang biak. Faktor kedua adalah Sirkulasi Darah yang Buruk. Kadar gula tinggi merusak pembuluh darah kecil di kaki, mengurangi aliran darah yang membawa sel darah putih (tentara kekebalan tubuh) dan oksigen ke area luka. Akibatnya, luka cantengan menjadi sangat lambat sembuh dan pertahanan tubuh terhadap infeksi menjadi lemah.
Jika infeksi pada cantengan tidak tertangani pada pasien diabetes, ia dapat menyebar dengan cepat dari jaringan lunak di sekitar kuku (menyebabkan selulitis) ke tulang (menyebabkan osteomielitis). Di sinilah intervensi medis darurat diperlukan. Contohnya, di Unit Perawatan Kaki Diabetes Rumah Sakit Sentosa, tercatat bahwa pada periode triwulan pertama (Januari – Maret 2025), 45% kasus amputasi kaki minor dimulai dari infeksi luka kecil yang tidak diobati, termasuk cantengan. Protokol rumah sakit mengharuskan pasien diabetes dengan tanda infeksi kuku (kemerahan, bengkak, dan nanah) untuk segera menemui dokter spesialis, idealnya dalam waktu 24 jam.
Untuk mencegah skenario terburuk, Cantengan dan Diabetes harus diatasi dengan pengawasan rutin. Penderita diabetes dianjurkan untuk memeriksa kaki mereka setiap hari di bawah cahaya terang, menggunakan cermin untuk melihat bagian bawah telapak kaki dan kuku. Mereka juga harus menghindari upaya perawatan mandiri yang berisiko, seperti memotong kuku sendiri dengan alat yang tidak steril atau mencoba mengeluarkan kuku yang menusuk. Pemotongan kuku harus dilakukan lurus dan tidak terlalu pendek, atau lebih aman lagi, dilakukan oleh podiatris profesional yang memahami kondisi diabetes. Konsultasi rutin dengan dokter kaki, misalnya setiap tiga bulan sekali, dapat mendeteksi masalah lebih dini sebelum menjadi luka yang mengancam.
